Rabu, 21 Maret 2018

Dibalik Kesulitan, Disitu ada Jalan


Tanpa sengaja ketika saya pergi ke tempat foto copy untuk suatu urusan, saya menemukan  sebuah cover buku yang memiliki tulisan cukup menarik, meskipun kurang begitu memahami bahasa Inggris namun perkataannya cukup familiar di telinga beginner seperti saya.
Sebuah kertas yang bertuliskan,
"Stars can't shine without darkness"
Saya berhenti sejenak untuk bisa mencerna kalimat ini, paling tidak ada sebuah makna yang menarik dalam kalimat tersebut yang setidaknya memiliki arti teks nya,
"bintang-bintang itu tidak dapat bersinar tanpa adanya kegelapan."
Seketika itu saya berpikir, bahwa tidak selamanya keburukan itu kita anggap buruk tanpa melihat sebab dan akibat yang berkaitan. Mungkin kita melihat bahwa perilaku mencuri adalah perbuatan melanggar hukum, tercela dan berdosa, namun apakah kita masih dapat berpikiran demikian ketika realitas dalam masyarakat adalah orang-orang individualis, orang kaya sibuk mencari harta dengan berbagai cara, para legislatifnya menipu rakyat (mengambil uang hak rakyat) dengan janji yang tidak ditepati, para pedagang mengambil keuntungan dari curangnya mengatur timbangan, orang-orang yang berhutang melupakan akan hak milik tentang barang yang dipinjamnya.
Coba kita membayangkan sebagai orang jujur, baik, pengertian dan ramah yang tinggal dilingkungan tersebut dan tidak memiliki kesempatan untuk berhijrah (pindah tempat tinggal), apa yang akan kita lakukan setidaknya untuk bertahan hidup?
Itu adalah contoh singkat yang terlintas ketika membaca satu baris kalimat singkat yang tidak sengaja. Ketika kita melihat lebih luas lagi, banyak hal yang kita dapatkan ketika membahas tentang hubungan sebab akibat.
Pada sudut pandang yang lain sebenarnya ada sebuah titik terang jalan keluar ketika kita melihat realitas kehidupan yang semakin kompleks. Ayat Al Qur'an menyebutkan sebuah  pernyataan yang menarik,
Coba kita buka surat Alam Nasrah ayat 5-6 yang secara berulang disebutkan dua kali,
"Inna ma'al usri yusra, fainna ma'al usri yusra"
"Sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan, maka sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan."
Ada satu kalimat menarik,
"maka bersama kesulitan itu ada kemudahan"
Kata 'bersama' ketika kita definisakan akan memiliki arti saling, beriringan dan saling melengkapi. Saya jadi teringat dengan salah satu amalan yang cukup menguras energi dalam agama Islam, yaitu ibadah puasa. Satu bagian pelajaran kecilnya adalah, kita akan menemukan (tersadar) kenikmatan rezeki (makanan) meski hanya dengan segelas air putih dan semangkok bubur. Kita bahasakan lebih mudahnya,
"Orang yang sering (tiap hari) makan ayam bakar memiliki rasa syukur yang berbeda dengan orang yang sebulan sekali makan ayam bakar meskipun keduanya memiliki kemampuan yang sama untuk membeli ayam bakar tiap hari."
Dalam kehidupan sering kali kita berputus asa atas sebuah kegagalan yang terjadi. Okelah, sedikit bersedih itu wajar, namun jangan berlarut. Coba lihatlah secara luas, perjuanganmu sampai titik ini sudah demikian panjangnya dan coba pikirkan perasaan bahagia ketika kamu melewati setiap kesulitan itu sehingga menggenggam sebuah keinginan yang terwujud.


sumber : https://www.kompasiana.com/avivazantha/5a955f8aab12ae5d106ba142/dibalik-kesulitan-disitu-ada-jalan
sumber gambar : https://bkmalkautsar.com

Senin, 12 Februari 2018

Syariat dan Realitas


Tanpa sengaja Bejo dan Bejan bertemu di pinggir sungai, mereka mencari tempat berteduh dan menceritakan pengalamannya selama satu Minggu ini. Seperti biasa, mereka mengambil daun dan sesekali pelepah kering untuk digunakan sebagai alas duduk. Dengan senyum simpul Bejan menyapa,

"Apa yang kamu bawa Jo?"

"Ini, bekalku tadi pagi belum habis," jawab Bejo.
"Hem, bolehlah ku minta"
"Boleh-boleh, tapi ada syaratnya"
"Apa itu," wajah Bejan penuh penasaran.
"Jawab dulu pertanyaaan ku, pertanyaannya seperti ini, apa yang membuat manusia merasakan nikmatnya makanan?"
"Tentulah karena rasanya enak," Bejan menyahut.
"Selain itu?"
"Apa ya? Sedang lapar mungkin"
"Ada satu hal Jan yang lebih penting lagi, yaitu kamu punya lidah yang normal untuk merasakan makanan. Ada lagi nih, lidah yang normal pun tidak akan merasakan nikmatnya makanan ketika kamu sudah merasa kenyang."
"Em, iya juga"
"Ada lagi nih, sesuatu yang mengurangi kenikmatan makanan"
"Apa itu Jo?"

"Yaitu karena sudah terlalu seringnya kamu memakan makanan itu, dari sini interpretasi masing-masing orang akan berbeda lagi tergantung jenis makanan yang dimakan, seberapa banyak serta seberapa sering dia makan, termasuk juga tentang kondisi psikis seseorang."
"Mendengar jawabanmu yang panjang aku menjadi semakin lapar"
"Oke, makanlah dulu, jangan lupa berdoa," jawab Bejo.

Bejan bersiap memakan bekal Bejo, makanan dalam bungkus daun jati tersebut dibuka, sesaat kemudian Bejan bersiap melahap makanan. Belum sempat masuk kedalam mulut Bejan, Bejo menahannya.

"E e e, jangan pakai tangan kiri, itu tidak baik secara syariat"
Dengan menelan ludah Bejan berhenti bernapas sejenak,
"Maaf, aku lupa. Tapi tunggu dulu Jo, saya ingin bertanya, kalau secara rasional tiada beda kan makan dengan tangan kanan maupun dengan tangan kiri?"
"Betul kawanku, dari segi penglihatan mata memang tidak ada, namun sebenarnya banyak konsekuensi berkaitan dengan apa yang kamu lakukan.

Pertama, ketika kamu tidak melakukan dengan alasan meremehkan hal itu, berarti kamu telah berdusta terhadap hukum syariat yang kamu ketahui, sehingga kamu melakukannya sekehendak hatimu, bukankah kamu telah berucap untuk mencontoh teladan terbaik, Rasulullah?.

Kedua, secara etika tangan kanan sebagai bagian tubuh yang memegang sesuatu yang baik, oleh karenanya kamu gunakan sebagaimana mestinya, tangan kanan baik untuk perbuatan baik, tangan kiri baik untuk perbuatan selainnya."

Tanpa sadar Bejan melongo, tidak mengingat bahwa dia sedang memegang makanan. Sejenak kemudian dia menelan ludah dan memakan makanannya hingga habis.
Setelah selesai makan Bejo menyampaikan pesan sebelum mereka berpisah,

"Terakhir Jan, sebelum kita berpisah, tak kasih sesuatu"
"Apa itu?," tanya Bejan Penasaran.
"Ini tak kasih salah satu kunci kesuksesan dunia"
"Apa ini?"
"Ini pena kawan"


Sumber gambar : http://fadhlihsan.blogspot.co.id

Rabu, 07 Februari 2018

Untukmu yang Katanya Manis Janjinya



Lihatlah tentang sebenarnya
Apa yang terjadi?
Dipundak mereka terpukul beban berat
Cukup berat untuk menopang perjuangan hayat
Janganlah,
Jangan!
Jangan kau tambah beban, yang mereka sendiri tidak mengerti itu apa
Kamu tahu orang yang terlalu sering berputus asa?
Mereka telah kehilangan ekspresi sedihnya
Jika mereka tersenyum, itulah saat mereka menangis
Janganlah,
Jangan!
Sekali kali jangan membuat lagi mereka bertambah menderita
Selama belum dapat meringankan
Apalagi membahagiakan

Kredit gambar : mysharing.co

Jumat, 02 Februari 2018

Qur'an in Microsoft Word



Qur'an in Word adalah sebuah aplikasi Al Qur'an yang terintegrasi dengan Microsoft Word, artinya aplikasi ini hanya dapat digunakan ketika membuka Microsoft Word. Kelebihannya adalah ketika kita ingin mendapatkan atau mencari ayat tertentu yang kita inginkan cukup kita pilih sesuai nama dan ayat surat.

Aplikasi ini sangat cocok digunakan untuk membuat materi atau artikel seputar pengetahuan agama Islam. Aplikasi ini juga dapat digunakan untuk mahasiswa yang membuat karya tulis atau karya ilmiah.

Cara installnya cukup mudah, sama dengan aplikasi pada umumnya dngan ketentuan Microsoft Word dalam keadaan tertutup.

Bagi yang menginginkan silakan download di link berikut:

https://www.4shared.com/file/LMsi04UDei/SetupQuranInWordInd13.html

Rabu, 31 Januari 2018

HAM dan Kebebasan Manusia


Setiap manusia menginginkan kehidupan yang baik, segala hal yang diinginkan terpenuhi dan mendapatkan apa yang dicita-citakan. Secara naluriah kebutuhan-kebutuhan yang ada di dalam tubuh juga hendaknya terpenuhi dengan baik, mulai dari tercukupinya pangan, sandang dan papan termasuk pula memiliki kehidupan keluarga yang harmonis, hak hidup layak serta hak berkreasi sebagai wujud pengembangan dan aktualisasi diri.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, “apakah setiap yang diinginkan manusia dapat terpenuhi dengan baik?”
Kiranya pertanyaan ini semakin menjadi menarik lagi ketika setiap manusia memiliki sesuatu untuk diraih dengan berbagai keinginan yang berbeda-beda setiap individunya.  Keinginan yang banyak dan bermacam-macam tersebut menjadikan setiap individu berkompetisi untuk meraih tujuannya.

Sebelum dibahas lebih jauh, marilah diperjelas terlebih dahulu tentang hak asasi yang harus terpenuhi bagi setiap manusia.  Setidaknya akan kita temuka tiga pembagian dasar yang harus dimiliki secara layak bagi manusia, yaitu hak mendapatkan makanan, berpakaian serta bertempat tinggal.

Setelah ketiganya terpenuhi dengan baik tentu akan berkembang lebih luas lagi, mulai dari keinginan mendapatkan sarana dan layanan kesehatan yang memadai, pendidikan untuk masa depan dan seterusnya.

Secara alami keinginan untuk terpenuhinya berbagai macam kebutuhan hidup telah tertanam dalam diri masing-masing dan secara naluri kesemua itu akan diperjuangkan oleh manusia. Namun pada suatu waktu, ketika salah satu individu merasa hak hidupnya tidak terpenuhi akan melakukan reaksi dengan berbagai cara. Pada kenyataan ini, ketika semakin banyak orang-orang yang merasa semakin menjauh dengan apa yang diinginkan maka akan semakin muncul gesekan antar individu maupun kelompok.

Seseorang akan berkumpul dengan orang lain yang memiliki perasaan, keinginan, sesuatu yang diperjuangkan yang sama. Masing-masing individu saling menjalin kerjasama dan membentuk sebuah perkumpulan untuk meraih tujuan.

Berbicara tentang masalah ini, saya pernah berdiskusi dengan seorang teman yang menjelaskan beberapa hal menarik terkait pembahasan Hak Asasi Manusia (HAM).
Setiap orang atau kelompok masyarakat memiliki definisi tersendiri berkaitan dengan hak bebas seorang individu.

Perbandingan yang menarik berkaitan dengan permasalahan HAM di suatu negara. Secara  umum HAM kita pahami sebagai sarana memanusiakan manusia, namun dalam perkembangannya diimplikasikan berbeda-beda. Di beberapa Negara timur tengah (Arab) sebelum datangnya Islam, beberapa perlakuan diskriminatif dan pelanggaran HAM terjadi di sini. Para perempuan dianggap tidak memiliki hak berkehidupan serta mengganggap mereka aib keluarga. Ketika itu juga masih dikenal konsep siapa yang kuat dialah yang berkuasa sehingga Islam datang sebagai salah satu alat untuk memperjuangkan hak hidup dan menjelaskan bahwa “tidak penting kedudukanmu, tidak penting jenis kelaminmu, yang paling penting adalah kebaikanmu (ketaqwaan).”

 Di Negara barat memiliki sejarah  HAM yang berbeda, dengan kemajuan teknologi yang dimilikinya mereka semakin berlomba-lomba untuk menjadi semakin unggul. Di sini berkembang paham kebebasan tanpa batas sebagai seorang individu. Konsekuensi dari hukum ini adalah selama yang dilakukan dianggap baik dan tidak merugikan orang lain tidak menjadi sebuah masalah. Paham ini sering disebut dengan Negara yang memiliki paham liberal (bebas).

Dampak secara besarnya adalah peran sebuah agama atau kepercayaan semakin diminimalisir dikarenakan tidak sejalan lagi (menurut mereka) dengan HAM. Banyak aturan agama yang menurut mereka mengekang kebebasan individu sehingga agama semakin dianggap membebani masyarakat.

Jika ditarik lebih umum maka HAM sangat berkaitan dengan norma, kebiasaan, kepercayaan dan agama suatu masyarakat, sehingga tiap-tiap daerah memiliki pandangan sendiri terkait HAM.

kredit picture : https://www.hidayatullah.com/
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com