Minggu, 17 Maret 2019

Ujian Kehidupan? Wajar!



“Hadeh… tiap mau panen ada saja masalahnya”, gumam Bejan sembari mengelilingi kebunnya.
Tak jauh dari kebun Bejan, Bejo sedang asyik mengayuh sepeda Ontel tua miliknya. Melihat Bejan dari kejauhan nampak kebingungan, Bejo perlahan menepikan sepedanya tersebut.
“Ada apa Jan, kamu kelihatannya bingung gitu?”, Tanya Bejo.
“Iya nih, mau panen tanaman Jagung malah banyak masalah muncul”.
“Masalah apa memangnya?”
“Ini, banyak ulat mengerubuti janten (Jagung yang masih muda), belum lagi aku dengar bahwa harga Jagung sekarang juga turun banyak, duh duh”
“Wes, sabar dulu. Kita bicarakan nyantai di warung tengah sawah, kamu belum ngopi kan?”

Bejo dan Bejan meninggalkan kebun dan berangkat ke warung.
“Budhe, pesan kopi cangkir dua ya?”, tutur Bejo kepada Ibu warung.
Beberapa saat kemudian,
“Oke Jan, sekarang kita ngobrol nyantai deh, aku sebagai sahabatmu akan mendengarkan segala keluh kesahmu. Sekarang ceritalah!”
“Iya, seperti yang aku sampaikan tadi, mengapa ada saja masalah yang muncul dalam kehidupanku. Hilir mudik silih berganti kayak ndak ada habisnya.
Ngomong-nomong aku heran juga, kalau kamu kayaknya enjoy terus, apa kamu gak punya masalah Jo?”
“Ow gitu, ada beberapa poin Jan terkait pernyataanmu itu, termasuk juga cara berpikirmu itu juga yang perlu sedikit dibenahi”

Sedang asyik mengobrol, Ibu warung menyuguhkan 2 buah kopi cangkir kesukaan mereka berdua. Sesaat kemudian sebelum Ibu warung kembali ke dapurnya mengucapkan sebuah kalimat singkat,
“Kalian ini suka banget diskusi ya, setiap ada masalah selalu berdiskusi, Ibu jadi tertarik buat ikut, tapi di lain kesempatan mungkin kali ya, takut gorengannya gosong soalnya, hehe.”
“Iya Bu, sahut Bejan singkat.
“Eh, mungkin di lain kesempatan kita dapat membuat sebuah acara yang menginspirasi, ya semacam stand up tapi kita kemas dengan pembahasan keseharian dilingkungan kita,” tutur Ibu warung menambahkan.
“wah cocok itu Bu”, Bejo dan Bejan kompak menjawab.

Ibu warung kembali ke dapur dan kedua sahabat karib tersebut melanjutkan diskusi.
“Poin pertama Jan, bukan berarti saya seperti sekarang ini tidak memiliki masalah, saya juga punya masalah namun saya mencoba berpikir positif, mesti ada hikmah dibalik ini semua.
Bahkan kalau kita melihat lebih luas lagi, setiap makhluk yang masih hidup ini juga punya masalah lho Jan”, ucap Bejo mengawali pembicaraan.
“Hem, kayaknya bener juga”, Bejan menjawab disertai kepala manggut-manggut.

“Coba kamu pikir, bayi yang lahir ke dunia semuanya menangis kan? Itu karena mereka memasuki dunia baru yang belum pernah terpikirkan. Mereka harus beradaptasi dengan dunia baru tersebut, mulai belajar bernapas dengan baik, belajar menggerakkan tangan dan kaki, belajar melihat dst.
“Terus apa hubungannya dengan masalahku Jo?”
“Gini, artinya selama manusia hidup itu ya harus terus belajar dan berjuang terhadap sesuatu yang diinginkan. Coba kamu pikir, sudah berapa masalah dari kamu kecil hingga seperti sekarang ini yang telah kamu lewati?, secara tidak sadar sebenarnya kamu sendiri sudah banyak belajar Jan, hanya saja memang terkadang masalah yang muncul itu terlihat cukup rumit dan berat.
Wajar! Kalau mbah Ndul bilang, everything is gonna be ok.
Kamu ingat kan, ketika kamu meyelesaikan sebuah masalah bagaimana perasaanmu?”

“Ya… sangat bahagia Jo, karena kita telah melewati masa-masa sulit dan akhirnya berhasil”
“Nah, itu. Sekarang daripada menggerutu kan lebih baik mencari jalan keluarnya. Kan lebih bermanfaat dan tidak membuang-buang waktu jika kamu memikirkan bagaimana supaya Jagungmu itu tidak dimakan ulat. Kamu kan bisa menemui Lek Di yang cukup paham tentang pertanian.
Kemudian kalau soal harga yang turun itu ya kita sama-sama berjuang sebisa kita, kan kita punya wakil rakyat, ya kita temui beliau-beliau, kita sampaikan aspirasi kita sebagai orang kecil terkait kondisi pertanian kita. Insyaallah itu adalah langkah kongkrit daripada hanya sekedar sambat”
“Benar juga Jo, oke sekarang kita habiskan kopinya dan membuat langkah kongkrit”
“Oke, come on”.

Minggu, 24 Februari 2019

Pemerintah dan Diperintah. eh Salah, Pemerintah dan Masyarakat

Sumber gambar : bertuahpos.com
Bejo mengelilingi kebun yang dimilikinya. Melihat dan mengawasi perkembangan tanaman yang sudah mulai tumbuh besar. Pada saat yang sama Bejan berlari menghampiri Bejo, seolah ada kabar viral terbaru yang ingin disampaikan. Dengan napas yang terengah-engah menepuk pundak Bejo.
“Woe, ada kabar terbaru nih..” tutur Bejan.
“Ada apa, kok kamu tergesa sekali?” jawab Bejo.
“Tadi kan aku mau ngopi di warung tengah sawah, terus aku lihat ada sebagian petani membuang hasil kebunnya di jalan raya”
“Maksudnya?”
“Gini, tadi aku lihat ada petani yang membuang hasil panennya, yang aku lihat ada banyak buah Naga yang siap dijual ada juga sayur-mayur yang juga dibuang, aku jadi heran.”
“Tidak mungkin kan masyarakat membuang-buang hasil panen yang sudah susah payah ditanam dan dirawatnya, kecuali ada sesuatu yang mengganjal?”
“Kayaknya sih gitu”
“Kamu sudah Tanya mengapa ada peristiwa demikian?”
“Saya tidak bertanya secara langsung namun sepintas kudengar mereka kecewa dengan harga buah Naga dan sayuran yang sangat murah.”
“Hmm…., mungkin saja itu bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang kurang bersahabat dengan petani”
“Mungkin juga, tapi cukup sayang membuang-buang hasil panen”
“Mau bagaimana lagi, setidaknya dengan perbuatan demikian akan menarik media massa untuk meliput dan juga akan terdengar oleh Dinas terkait”

Bejo dan Bejan terus berjalan dan beristirahat di sebuah gubuk kecil untuk berteduh. Dengan ekspresi penuh tanya Bejan langsung membuka dialog kembali.
“Ngomong-ngomong dari peristiwa tersebut siapa yang layak disalahakan Jo?,” Tutur Bejan.
“Ya.. kita tidak bisa serta merta memberi penilaian. Harus kita lihat secara utuh dimana titik permasalahan dan runtutan kejadian. Banyak faktor yang perlu dianalisa, mulai dari kondisi pertanian, kebijakan harga pupuk, harga obat serta sejauh mana instansi terkait membuat kebijakan tentang pertanian.
Tetapi tetap sih yang paling bertanggungjawab diposisi ini adalah pemerintah. Bagaimanapun pemerintah harus menstabilkan harga, menyesuaikan keseimbangan antara modal kebun (pupuk, benih dll) dengan harga jual di pasar.”
“Maksudmu pemerintah itu termasuk DPR?”
“Ya, termasuk juga, coz mereka yang membuat berbagai kebijakan. Jadi juga penting disini para wakil rakyat yang benar-benar paham tentang bagian yang ditangani, salah-salah membuat kebijakan yang tidak bisa mensejahterakan rakyat, malah-malah kebijakan semaunya sendiri.”
“Ah… saya juga pingin jadi DPR, biar bisa membuat sejahtera petani”
“Yang bener Jan?”
“Iya lah”
“Tapi kamu harus hati-hati lho?”
“Kenapa memang?”
“yah, kita kan tidak tahu hati manusia, kalau lihat uang banyak takutnya terlena?”
“Maksudmu uang banyak?”
“Kan banyak proyek yang bisa diambil ketika menjabat sebagai DPR.”
“Iya juga sih, oke Jo, obrolannya kita lanjutkan besok, hari ini aku ngantor dulu”
“Syiiiaapp”

Senin, 24 Desember 2018

Silakan Natal dan Tahun Baru



Hidup itu harus selow, namun jangan sampai acuh terhadap segala hal yang terjadi.
Hidup itu harus tenang, namun jangan sampai bermalas-malasan.
Hidup itu harus kalem, tapi jangan sampai kebablasan dan ketinggalan kereta waktu.

Hari ini tepat tanggal 25 Desember 2018, hari dimana umat Kristiani (Kristen) merayakan Natal dan persiapan tahun baru. Sebagai bentuk toleransi dan saling menghormati saya akan mengucapkan,
“Silakan Natal dan tahun baru”

Mungkin ada yang sedikit aneh ya, oke ndakpapa, woles bos.
Prinsip saya adalah kehati-hatian. Ada yang berpendapat bahwa ucapan selamat adalah bagian dari kita setuju dari perayaan serta setuju akan maksud dari perayaan tersebut. Ada pula yang berpendapat bahwa selamat itu adalah bagian dari toleransi bukan termasuk mencampurkan pemahaman antar agama.

Oke, sekali lagi woles ya,
Toleransi yang saya pahami adalah terjaga kerukunan dengan baik serta tidak ada gangguan dari diri kita terhadap ibadah umat beragama lain, that’s enough.

Sekedar gotong royong bersih-bersih jalan oke, sekedar membantu membangun rumah boleh, saling membantu tetangga dalam kesusahan atau musibah bagus.

Namun yang harus hati-hati adalah ketika sudah masuk dalam bagian-bagian pokok ajaran agama. Sekali lagi prinsipnya adalah kehati-hatian.

Sebenarnya jika antar pemeluk agama sudah memiliki pemahaman yang luas (ora cupet) maka soal menghargai prinsip dan kepercayaan itu akan dengan sendirinya terbangun. Masing-masing agama punya prinsip bahwa agamanya yang paling benar, tidak ada masalah, justru yang demikian harus dijaga. Mengapa? Inilah bentuk kecintaan dan kepatuhan terhadap agama masing-masing yang dianut. Kemudian apa yang menjadi masalah? yang menjadi masalah adalah memaksakan seseorang untuk memiliki kepercayaan yang sama seperti kepercayaan kita.

Meminjam istilahnya Cak Nun,
“Kon arep mlebu Neroko utowo Surgo yo sak karepmu, kuwi yo kanggo awak-awakmu dewe”.
Artinya, urusan ideologi dan kepercayaan kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkan, lakum dinukum waliyadin.

 Di sisi yang lain, dalam berhubungan dengan orang banyak maka, terpenting itu adalah interaksi sosialnya. Standar norma, etika, kesopanan, kesusilaan, tata karma dan anggah ungguh itu yang penting untuk diperhatikan.

Jadi istilah toleransi itu padanan yang tepat adalah “membiarkan”.
Salam lima jari.

Sabtu, 24 November 2018

Ghiroh Ideologi



Dek, aku cinta sampean?
Bener Mas?
Iyo Dek.
Opo Mas buktine?
Yo pokok e cinta.
Leh, yo ora Mas, cinta ke butuh bukti.
Cinta ke ora keno didefinisikan lho Dek, aku ke nduwe roso seneng, mantep karo sampean.
Iyo, aku paham, cintane iyo, tapi manifestasi cinta iku ono. Termasuk iku lho, hukum sebab akibat utowo kausalitas. Mosok sampean ngomong cinta tok tanpa ada tanda yang mengiringi?

Cinta, keyakinan, keberpihakan adalah sebuah rasa tentang pilihan terhadap sesuatu yang ingin dibela, diperjuangkan dan dipegang teguh. Memilih berarti memiliki rasa untuk memperjuangkan sebuah komitmen.

Bullshit, ketika berbicara cinta dan rela namun hanya sebatas ucapan tanpa bukti.
Oke, to the point
Yang ingin saya sampaikan disini adalah sebuah kebohongan jika berkata, saya Islam, saya akan memperjuangkan agama Islam dengan sebenar-benarnya, namun tidak ada greget, rasa memiliki dan bukti membela ketika agamanya direndahkan oleh seseorang atau kelompok tertentu.

Bro, lihat tuh, ada yang mengolok agama kita?
Mengolok gimana Bro?
Ada yang mengatakan bahwa Islam itu agama kebodohan, agama yang hanya mengajarkan kekerasan.
Sabar aja bro, meskipun mereka mengatakan demikian tetap agama Allah akan suci dan tinggi.
Iya Bro, bener. Namun catatanku disini itu bukti kamu membela agamamu itu lho.
Mosok kamu punya agama namun merasa sok acuh gitu.
Ini bukan acuh Bro, ini khusnuszon.
Lha terus, jika ada orang menghina nabi Muhammad apakah kamu juga diam saja?
Nabi Muhammad itu dihina seperti apapun akan tetap mulia bro, jadi tenang aja, yang penting pokoknya kita khuznudzon dan selalu berbuat baik. Beramal soleh yang banyak.
Nih bro, saya kasih salah satu referensi,
Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.  (QS As-Shaff: 14)

Bentar bro kalau gitu, tak merenung dulu.
Be be be bersambung…

Rabu, 18 Juli 2018

Berjalan dan Bersabar dalam Hikmah



Terkadang kesulitan menyadarkan seseorang akan betapa pentingnya kebahagiaan yang dimiliki. Sebagian orang sedikit bersyukur tentang kesehatannya karena telah lama tidak merasakan sakit. Sebuah mobil keluaran terbaru dengan fasilitas lengkap pada masanya juga akan mengalami kerusakan.

Jika ditarik lebih luas lagi maka kita kan menemukan tentang dunia yang terus berrdinamika, berputar dan berjalan dalam sebuah garis sejarah. Pada sebuah titiknya nanti siapa yang bertahan akan menggantikan dan siapa yang menyerah akan menyingkir. Roda akan berputar terus hingga sebagian yang baru menggantikan yang lama dan sebagian yang lain juga saling mengisi.

Pada sebuah titik, cukup sering manusia merasakan kejenuhan dan kebuntuan berpikir. Hal ini dapat terjadi kepada siapa saja yang memang alamiah terjadi yang disebabkan oleh berbedanya apa yang dipikirkan dengan realitas yang terjadi maupun ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Pada titik ini tidak sedikit orang melakukan tindakan-tindakan abnormal dan depresi.
Melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Pada keaadaan ini peran positif keinginan untuk menjadi lebih baik (motivasi) akan berperan penting dalam pengambilan tindakan. Termasuk juga halnya motivasi eksternal baik itu dari lingkungan pergaulan, teman sebaya maupun orang-orang terdekat.

Adapula keinginan berubah itu berasal dari diri sendiri yang tiba-tiba saja muncul maupun didorong oleh kejadian tertentu semisal melihat orang lain yang mengalami kesulitan yang lebih besar namun dapat melewatinya. Dengan kejadian itu cukup sering pula ledakan-ledakan semangat muncul.

Mari melihat pada orang-orang yang telah hidup cukup lama dan telah mengalami suka duka yang tidak terhitung. Mereka yang bertahan hingga kini tentulah memiliki sebuah harapan   

Orang yang dapat melihat dalam pelajaran kehidupan akan bersikap bijak tentang segala sesuatu yang terjadi.
“Apalah yang aku perjuangkan sedemikian susahnya, toh pada saatnya nanti akan menjadi milik orang lain kan?”
“Apalah yang aku kejar mati-matian, pada saat mendapatkan terkadang aku lupa bagaimana menjaga dengan baik”

Memiliki sebuah keinginan maupun impian akan mendorong seseorang untuk bergerak maju menggunakan segala potensi untuk meraih keinginan. Dengan tahapan demi tahapan yang telah dilewati akan semakin menambah keyakinan terhadap tujuan. Pada saatnya manusia akan memperoleh apa yang diinginkan. Ada yang dapat mampu mewujudkan 100% keinginannya ada yang hanya mampu 90% ada pula yang di bawah itu. Semua akan terlihat hasilnya ketika upaya telah dilakukan. Seperti kata pepatah,
“Hasil tidak akan menghianati proses”

Orang-orang yang belajar tentang ilmu hikmah akan menemukan bahwa hidup hanya secukupnya, seperlunya. Orang Jawa menyebutkan,
“Urip iku mung sak dermo, urip iku mung mampir ngombe”
“Hidup itu hanya secukupnya, hidup itu ibarat berhenti sejenak untuk singgah minum”

Banyak orang belajar dari pengalamannya, namun banyak orang juga yang banyak melakukan kesalahan namun terus saja terulang kembali. Sikap seseorang akan dapat dilihat dengan apa yang dilakukan serta dengan cara apa dia bertindak.

Dunia tidak akan berhenti berputar meski semua orang bermalas-malasan dalam menjalani kehidupan. Begitu halnya satu hari akan tetap 24 jam meskipun semua manusia berupaya mendorong matahari. Satu kata kunci yang penting adalah jadilah orang yang kedatangannya diharapkan dan kepergiannya ditangisi karena setiap yang dilakukan adalah kebaikan.

sumber gambar :https://beritagar.id
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com