Jumat, 05 Mei 2023

Jaman Berubah

  

Ilustrasi
 

Masih ingatkah uang jajan SD jaman dulu?

Saya ingat betul di tahun 2000, Ketika itu uang saku saya adalah Rp.200.-. yang dengan uang segitu saya bisa membeli 2 buah arem-arem atau dalam bahasa sekarang lontong isi sayur. Di jaman itu, belum begitu banyak kendaraan, penggunaan HP pun masih jarang sekali. Ketika itu guru SD saya pun hanya beberapa yang sudah memiliki HP.

Saya tidak ingat secara detail materi apa saja yang saya pelajari ketika itu. Namun, saya ingat bahwa waktu-waktu bermain di luar kelas sangatlah cukup. Bermain kelereng, membuat garis di tanah, berlari-lari dan lain sebagainya.

Yang menarik lagi saat itu adalah laki-laki dan perempuan masih sangat menjaga diri. Jangankan ada istilah “pacaran”, sekedar dijodohkan dengan lawan jenis saja malunya setengah mati. Ya.. mungkin merasa bahwa berdekatan dengan lawan jenis adalah hal yang “tabu”.

Masuk jenjang SMP, tidak begitu jauh berbeda, “vibes” remaja saat itu masih terasa. Belajar, bermain, keluyuran dan kegiatan lainnya. Seingat saya definisi “nakal” anak remaja ketika itu masih dalam tataran normalnya anak remaja, belum banyak dijumpai hal-hal yang melanggar nilai-nilai ke-adaban dan syariat agama. Hal ini mungkin saja disebabkan karena wawasan anak-anak masih terbatas, tontonan di televisi juga terbatas, belum menyentuh dunia digital dan belum mengenal HP.

Dunia berkembang, jaman berubah, waktu berjalan. Mau tidak mau dan suka tidak suka kita harus mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan teknologi. Rumah-rumah model lama mulai diperbaiki, TV-TV mulai banyak dibeli, jual beli HP mulai luas dan informasi mulai berkembang cepat.

Dunia semakin berkembang pesat yang paling terlihat karena adanya HP android. Dengan mengakses jaringan internet yang luas menjadikan pertukaran informasi semakin cepat. Dari hal inilah ketika kita tidak punya filter yang kuat dalam menyaring informasi dan media maka bukannya mendapat kebaikan yang banyak, bisa jadi malah sebaliknya, orang-orang banyak terjerumus dalam penggunaan teknologi yang salah.

Bisa kita lihat kondisi sekarang, jangankan anak-anak SMP, anak-anak SD pun sudah sangat lihai mengakses internet, mereka mencari informasi seluas-luasnya, sampai-sampai banyak mendapatkan informasi yang salah dan tidak tepat. Rasa penasaran yang tinggi mengakibatkan anak semakin lebih jauh mengakses konten-konten yang “belum saatnya” mereka lihat. Sehingga banyak anak SD pun mulai suka dan senang dengan pacaran maupun bergaya sebagaimana orang dewasa.

Hal ini ditambah parah dengan minimnya pengawasan orang tua. Orang tua yang mungkin karena sibuk pekerjaan, sampai lupa dengan tugasnya mengawasi buah hatinya. Sesekali ingat untuk menasehati makan dan tidur, tapi lupa untuk mengecek prestasi maupun apa yang ditonton anaknya di HP. Dari hal ini tidak jarang anak-anak yang meniru kata-kata kasar di internet, banyak juga anak yang semaunya sendiri karena mengikuti tren di internet.

Kian masifnya perkembangan teknologi ini hendaknya benar-benar dilihat sebagai sesuatu yang harus diperhatikan betul. Perkembangan dan kemajuan adalah sebuah keniscayaan, sehingga perlu langkah-langkah yang tepat dalam mensikapi perkembangan tersebut.

 

Sabtu, 11 Maret 2023

Asa



Entah,

Tiada tahu kapan, siapa, dimana?

Setiap manusia

Mempunyai bekal yang sama

Mereka semua ada

Saat tidak punya apa-apa

 

Saat-saat masa diam

Saat dimana manusia tenggelam

Belum ada ingatan silam

Hanya ada tangis malam

 

Kini,

Saat mulai punya amanah

Saat mulai dapat membeli mobil mewah

Saat itu perlahan hilang

Bahkan hampir semua hilang

 

Uang adalah kutukan

Punya kekuatan magis membius akal manusia

Seperti serigala menerkam

Hingga akhirnya terlarut tenggelam

 

Semoga harapan masih ada

Saat banyak orang membutuhkan asa

Walau bagaimana jua

Sisa nurani akan berkata sebenarnya



karya : Afif Alauddin

Kamis, 27 Oktober 2022

Anda Radikal!



Di suatu sore, seperti biasanya rutinitas Bejo dan Bejan adalah ngopi di warung lek Tum. Dikarenakan cuaca berawan, Bejo dan Bejan bergegas ke warung karena sudah ada tanda-tanda akan hujan. Sesampainya di warung mereka segera menemui Lek Tum dan segera memesan kopi.

“Lek, biasa... kopi cangkir,” ucap Bejo mengawali pembicaraan.
“saya sama juga Lek, tambah sedikit susu ya,” tutur Bejan menambahi.
Sambil menunggu minuman jadi, mereka menunggu di teras depan sambil memantau berita terbaru di HP masing-masing.
“wih, lihat Jan, ada berita tentang kemungkinan semakin banyaknya potensi aksi radikalisme menjelang pemilu 2024,” Bejo menyampaikan berita dengan bersemangat.

"Ya bisa saja, akhir-akhir ini banyak isu baru bertebaran", jawab Bejan.
"Memang berbahaya sih radikalisme itu".
“memang kamu tau Jo, apa itu radikal dan radikalisme?”
“yaa, radikal itu para teroris itu yang membuat kegaduhan dan ketakutan masyarakat”
“contohnya apa kalau begitu Jo?” Bejan bertanya kepada Bejo.
“yang kayak itu, masyarakat sipil bawa senjata, ada bom bunuh diri. Ada juga yang bawa-bawa nama agama dalam memberantas maksiat, tapi yang ini radikal agak bagus sih, Cuma mungkin caranya ya yang salah.”
“nah ini Jo, yang harus lebih kita pahami tentang makna radikal.”

Bejo dan Bejan ngobrol panjang hingga lupa, kopi yang disajikan Lek Tum sudah di atas meja. 
“itu lho kopi nya segera diminum dulu. Nanti dingin lho,” tutur lek Tum dari balik jendela.
“iya Lek,” Bejo dan Bejan menjawab bersama.
Sejurus kemudian mereka mengobrol kembali.
“gini Jo, kamu membaca belum istilah atau makna tentang radikal?”, Bejan memulai pembicaraan lagi.
“belum Jan.”

“secara bahasa, radikal itu artinya mendasar/ mengakar, bisa juga diartikan tindakan besar yang menyelisihi keumuman yang dilakukan secara jelas, tegas dan masif.”
“oh gitu Jan, berarti istilah radikal itu bisa positif dan juga bisa negatif ya?”, tanya Bejo dengan mengernyitkan dahi.
“yap, tepat. Jadi istilah radikal bisa melekat dalam perbuatan apapun. Selama ini memang oleh sebagian orang radikal itu dimaknai sempit. Tindakan atau kekerasan dalam hal agama dianggap radikal, tetapi dalam hal lainnya tidak ada istilah demikian. Meskipun radikal bisa bermakna positif dan negatif, namun banyak persepsi yang muncul bahwa radikal itu negatif. Hal ini juga yang mengharuskan kita mengedukasi masyarakat sebisa kita”

“iya sih Jan, saya mulai sedikit bisa mengerti bagaimana kita menempatkan istilah ‘radikal’ pada pengertian yang tepat”.
“pahlawan kemerdekaan zaman dahulu oleh penjajah juga dikatakan radikal Jo, karena mereka tidak manut, bahkan ‘membangkang’ tindakan dari penjajah. Sehingga mereka diintimidasi bahkan dicelakai oleh penjajah. Orang yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan agama juga dapat dikatakan dalam arti mereka benar-benar taat terhadap perintah agamanya.”

“kalau ini Jan, radikal dalam makna yang negatif bagaimana?”
“nah itu, semisal contoh yang kamu sebutkan tadi, ada orang sipil yang tanpa izin membawa senjata dan menakut-nakuti masyarakat. Ada juga orang dengan pemahaman agama yang salah sehingga melakukan bom bunuh diri. Tapi pengertian dan contohnya jangan berhenti sampai sini. Jika pakai istilah ini, para koruptor itu juga termasuk melakukan tindakan yang radikal, yaitu dia mengambil keuntungan pribadi, merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Misalnya Bansos untuk rakyat yang benar-benar membutuhkan, malah dikorupsi. Bahkan diberbagai aspek kehidupan banyak oknum-oknum yang selalu saja melakukan korupsi sehingga membuat kerugian bagi masyarakat luas”

"iya Jan. Berarti kita harus selalu berliterasi secara terus menerus supaya dapat memahami dan meletakkan segala hal sesuai dengan porsi dan pemahaman yang sebenarnya."
Obrolan selesai, kopi juga habis. Akhirnya mereka membayar kopi dan beranjak pulang untuk aktifitas masing-masing.

Jumat, 21 Oktober 2022

Renunganku

 

Hanya Ilustrasi 

Aku terus berjalan, melewati segala kondisi yang ada. Terjal, meliuk, menurun, lurus, semua ku jamah dengan kaki penopang tubuh ini. Lamat-lamat kulihat di depan, secercah cahaya, pada kenyataannya adalah kondisi yang berbeda. Lamat-lamat kulihat setitik kegelapan, nyatanya juga tidak se 'ngeri' apa yang terlihat.

Akhirnya aku menyimpulkan, bahwa segala sesuatu hanya dapat diprediksi, diperkirakan dan diperhitungkan, pada kenyataannya tentu berbeda daripada pemikiran yang ada. Akhirnya aku terus berjalan dan melangkah. Belajar dari segala apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan. Meski tergelincir di sana-sini, aku mencoba terus bangkit dan bangkit.

Pemikiran dan kenyataan yang berbeda membuatku belajar untuk beradaptasi dengan masa, waktu, suasana dan kenyataan.

Kesakitan yang ku alami nyatanya akan berganti dengan perasaan lain. Kadang sedih, kadang bahagia. Kadang mudah, kadang sulit. Semua berganti terus menerus dan tiap saat.

Aku memandang, betapa beruntungnya orang lain, nyatanya aku termakan dengan fatamorgana itu sendiri. Berkhayal yang tinggi akan mengabaikan kenyataan dan mengurangi rasa syukur.

Menyesal, iya; bersyukur juga iya, semuanya mengisi rongga hati tentang apa yang sudah terjadi. Sedemikian liar apapun pemikiran, dan seberapa keras usaha, pada akhirnya kenyataan lah yang akan dirasakan.

Apa yang terjadi itulah kenyataan yang harus diterima, dan apa yang belum terjadi itulah yang harus diupayakan sebaik mungkin. Hingga pada suatu titik nanti, manusia akan ditanya seadil-adilnya tentang apa yang dipikirkan, tentang apa yang diucapkan dan tentang apa yang dilakukan.

Bismillah, aku pasrahkan semuanya kepada sang maha pemilik jagat raya.

Kamis, 29 September 2022

SEMU DAN PALSU

 

gambar hanya pemanis


Saya ragu… apa yang kamu pikirkan berbeda dengan apa yang kamu ucapkan!

Saya ragu… apa yang kamu ucapkan berbeda dengan apa yang kamu lakukan!

Saya  ragu… kamu mengatakan benar, padahal itu salah

Saya ragu… kamu mengatakan salah, padahal itu benar

 

Hatimu berdusta…

Kamu berkata cinta rakyat kecil, padahal itu alibimu

Kamu berkata cinta rakyat kecil, padahal hanya mencari keuntungan pribadi

Kamu berkata, saya berjuang bersama rakyat, nyatanya omong kosong,

Kamu hanya takut jabatanmu hilang

 

Kamu pikir rakyat kuat

Dengan kebijakan yang membuat sekarat

Kamu membuat ibarat

Itu adalah adaptasi masyarakat

 

Matamu menangis, tapi hatimu sadis

Matamu berkaca-kaca, tapi hatimu sirna

Air matamu mengalir di pipi, tapi hatimu mati

 

Kamu tahu sebenarnya, tapi pura-pura tidak tahu

Kamu dengar sebenarnya, tapi pura-pura tidak dengar

Sampai kapan hatimu kau tutupi dengan bongkahan ketamakan dan kerakusan

Sampai kapan hatimu kau kunci dengan tali amarah dan serakah

 

Tunjuk sani sini, kamu salah

Salahkan sana sini, hanya sayalah yang benar

Padahal… kamu sendiri yang membuat kegaduhan

 

Sadarlah, dunia sementara yang nanti akan sirna

Uang hanya titipan yang nanti akan hilang

Jabatan hanya sebentar yang nanti akan pudar

 

Hidup sejati adalah hidup setelah mati

Kehidupan dibukanya semua amal

Dan persaksian semua anggota badan

Ingatlah baik-baik

Sebelum semua terlambat

Sebelum penyesalan hanya ungkapan tiada guna

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com