Senin, 14 September 2015
Rabu, 26 Agustus 2015
Selayang Pandang Lembaga Pers Mahasiswa al-Millah (2015)
By
Aviv azantha
Rabu, Agustus 26, 2015
LEMBAGA PERS MAHASISWA
,
PERHIMPUNAN PERS MAHASISWA INDONESIA
No comments
There are only two things that can be lightening the world. The sun light in the sky and the press in the earth. (Mark Twain)
Salam Pers Mahasiswa!
Jika kita percaya terhadap ‘mahluk’ yang bernama sejarah, kemudiaan kita klaim sebagai gerak dialektis antara kondisi subyektif pelaku dan kondisi obyektif dimana mereka berada, kawan-kawan akan melihat dinamika Gerakan Mahasiswa sepanjang waktu tidak lepas dari pengaruh para aktivis Pers mahasiswa. Karena kita percayai disini, Pers mahasiswa adalah suatu alat perjuangan bagi kaum aktivis gerakan mahasiswa, corong kekuatan dalam menyalurkan aspirasi kritis seorang tunas bangsa, dan kita akan melihat hubungan diantara keduannya sangat erat.
fungsi Persma saat ini perlu digencarkan lagi mengingat eksistensi gerakan mahasiswa berada pada jalur ideologi yang masih kental untuk diperjuangkan. Persma mampu menjaga idealisme tanpa ada keikutsertaan suatu golongan. Payung independensi tidak akan mampu dirogoh oleh kalangan yang berkepentingan saja. Mengingat sejarah berdirinya persma adalah untuk melakukan pembelaan terhadap rakyat.
Berbicara tentang permediaan, pers mahasiswa memiliki bagian tersendiri dalam mengawal pilar demokrasi. Sejak tahun 1908 “aktifis pena” ini telah ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan republik indonesia.
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) al-Millah STAIN Ponorogo merupakan salah satu dari sekian banyak organisasi Mahasiswa khususnya Lembaga Pers Mahasiswa. LPM al-Millah menguraikan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan ‘sentuhan pena’. Hal ini sebagai upaya dalam memperjuangkan identitas Mahasiswa sebagai pelopor perubahan.
Sejak tahun 2010 LPM al-Millah telah bergabung dengan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia yang notabene-nya adalah organisasi Persma secara nasional.
Saat ini LPM al-Millah telah mengupayakan peningkatan SDM dan SDA dengan melakukan serangkaian kegiatan jurnalistik serta mengaplikasikannya; salah satunya dengan mengoptimalkan Media sebagai alat utama.
Meruntut pada sisi historisnya lembaga pers mahasiswa (LPM) al-millah telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Nama al-millah sendiri merupakan bagian dari cita-cita organisasi. Al-millah yang berarti “jalan” merupakan harapan sebagai salah satu jalan penopang dalam perjuangan keadilan.
Sesuai dengan penyebutannya, bidang garapan LPM al-millah adalah dunia jurnalistik. Dunia dimana sangat berpengaruh dalam mengawal perubahan. Kita lihat saja, pada beberapa tahun terakhir para organisasi media (khususnya pers umum) saling bersaing dalam memperoleh rating. Berperang memperoleh hati pembaca agar tetap memiliki posisi puncak penguasa. Persaingan ini diperumit dengan berkembang pesatnya online jurnalism.
Dari kenyataan inilah mengapa fungsi dari LPM dalam menyuarakan idealisme mahasiswa perlu ditingkatkan. Salah satu prinsip LPM yang menjadi pengiring idealisme tersebut adalah insan pers mahasiswa (PERSMA) tidak mengejar profit/ keuntungan.
Pintu gerbang dalam memasuki lpm al-millah memiliki tiga tahapan yang wajib dilalui. Pertama, penerimaan anggota baru (PAB) yaitu ketika mahasiswa pertama kali mengenal al-millah dan menginginkan untuk belajar di dalamnya. Kesempatan ini merupakan tahap penetapan pilihan mahasiswa untuk memilih organisasi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Kedua, pelatihan jurnalistik tingkat dasar (PJTD). Yaitu pelatihan untuk mengenal dan mengetahui dasar-dasar jurnalistik. Setelah melakukan pelatihan ini maka anggota baru yang telah mengikuti pab disebut crew magang. Ketiga, pelatihan jurnalistik tingkat lanjut (PJTL) yaitu pelatihan lanjutan untuk mendalami dan mengerti akan fenomena sosial dan bagaimana insan persma dapat mengambil tindakan. Setelah tahap inilah maka penyebutan crew magang akan berganti menjadi crew tetap.
Al-millah memiliki output utama (selain insan persma sendiri) berupa media cetak (tulisan). Dalam even-even tertentu maupun secara berkala media yang dibuat kemudian dihasilkan dan dipublikasikan kepada pembaca khususnya para mahasiswa. pemilihan media cetak sendiri memiliki beberapa kelemahan dan kelebihan. kelemahannya adalah tidak dapat terbit secepat media online. kelebihannya adalah pertanggungjawaban data yang jelas. tidak seperti media online yang secara cepat dibuat maupun secara cepat dihapuskan dan pada jenis-jenis tulisan tertentu seringkali media online menimbulkan keresahan bagi para pembaca.
STRUKTUR LPM-ALMILLAH 2015
Pemimpin Umum : Dafiq Shofi Jauhari
Wakil Pemimpin Umum : Afif Alauddin
Sekretaris Umum : Moh. Ihsan Fauzi
Bendahara Umum : Maratus Solechah
Bidang-Bidang
Keredaksian : Maratus Solechah (Coordinator)
Achmad Syamsul Ngarifin
Ilyas Nur Cholis
Yopy Resmitaningtyas
Penelitian Dan
Pengembangan : Rendi Mahendra (Coordinator)
Annisa Rahmawati
Moh. Ihsan Fauzi
Perusahaan : Achmad Syamsul Ngarifin (Coordinator)
Widya Anisa Ulfina
Vivi kusuma wardani
Nurhayati
Senin, 29 Juni 2015
Tips Jurnalisme: Memberi Ruh pada Berita
Informasi dan gagasan seringkali beku dan tanpa jiwa. Itu sebabnya
menjadi tugas seorang penulis untuk mencairkan, mengemas, dan
menyajikan informasi secara menarik. Tulisan menarik adalah yang
berjiwa, sajian penuh vitalitas (hidup) serta elok sehingga mampu
menggaet dan memelihara minat pembaca untuk menyerap seluruh informasi
yang disampaikan.
APA ITU RUH CERITA?
MANUSIA
Setiap fotografer tahu bahwa gambar yang tidak menyertakan unsur
kehidupan seperti manusia hanya akan berakhir nasibnya di keranjang
sampah.
Begitu pula dengan tulisan. Pembaca suka membaca tentang manusia
lainnya. Mereka kurang berminat pada isu dan gagasan. Mereka lebih
terpukau pada pribadi-pribadi. Jika kita bisa menampilkan sebuah wajah
pada kisah rumit yang jarang diikuti pembaca, pembaca akan terpikat
membacanya dan sekaligus memperoleh informasi.
TEMPAT
Pembaca menyukai sense of place. Kita bisa membuat tulisan lebih hidup
jika kita bisa menyusupkan sense of place yang kuat. Misalnya: seperti
apa lokasi tempat terjadinya pembunuhan itu, bagaimana suasana di
balik panggung pertunjukan?
INDERA
Kita harus berupaya untuk menyentuh indera pembaca. Membuat mereka
melihat cerita dalam detil visual yang kuat. Dan dalam konteks yang
tepat, juga membuat mereka mendengar, meraba, merasakan, membaui dan
mengalami.
IRAMA
Tulisan yang monoton bisa dibantu dengan perubahan irama di dalam
naskah. Anekdot, kutipan, sebuah dialog pendek atau sebuah deskripsi
dapat mengubah irama agar pembaca bisa terikat sepanjang cerita dan
membuat tulisan itu lebih hidup.
WARNA DAN MOOD
Kamera televisi dapat menampilkan pemandangan yang sesungguhnya, dalam
warna dan detil. Penulis tidak dapat menyajikan pemandangan dengan
mudah, sehingga mereka harus berusaha keras untuk melukis dalam
pikiran pembaca.
Warna meliputi: citarasa, suara, bau, sentuhan dan rasa. Dan tentu
saja sesuatu yang dapat dilihat: gerakan usapan, detil pakaian, rupa,
perasaan. Warna bukan hanya sekedar kata sifat tetapi merupakan
totalitas dari sebuah pemandangan.
Dengan menggambarkan warna, berarti Anda juga menceritakan tentang
suasana (mood). Bahagia? Penuh emosi dan ketegangan? Sering hal
semacam ini memberikan ketajaman perasaan terhadap cerita ketimbang
bagian lain yang Anda tulis.
ANEKDOT
Anekdot adalah sebuah kepingan kisah singkat sepanjang satu hingga
lima alenia: ''cerita dalam cerita''. Anekdot umumnya menggunakan
seluruh teknik dasar penulisan fiksi (narasi, karakterisasi, dialog,
suasana) untuk mengajak pembaca melihat cerita secara langsung seperti
mereka berada di tempat kejadian.
Anekdot sering dipandang sebagai ''permata'' dalam cerita. Penulis
yang piawai akan menaburkan permata itu di seluruh bagian cerita,
bukan mengonggokkannya di satu tempat.
HUMOR
Humor adalah bentuk ekspresi yang paling personal. Berilah pembaca
sebuah senyuman, dan mereka akan menjadi sahabat Anda sepanjang hari.
Dan buatlah mereka menanti tulisan Anda esok harinya. Tapi hati-hati
dengan humor yang tak bercita-rasa.
PANJANG-PENDEK
Makin pendek cerita makin baik. Kisah akan lebih hidup jika awalnya
berdekatan dengan akhir (klimaks), sedekat mungkin. Alenia dan kalimat
perlu bervariasi dalam panjang. Letakkan kalimat dan alenia pendek
pada titik kejelasan terpekat atau tekanan terbesar.
KUTIPAN
Kutipan dalam tulisan berita memberikan otoritas. Siapa yang
mengatakannya? Seberapa dekat keterlibatannya dengan sesuatu peristiwa
dan masalah? Apakah kata-katanya patut didengar? Kutipan juga
memberikan vitalitas karena membiarkan pembaca mendengar suara lain
selain penuturan si penulis.
DIALOG
Perangkat ini jarang digunakan dalam koran atau majalah berita. Tapi,
bisa menjadi wahana yang efektif untuk menghidupkan cerita. Dalam
meliput sebuah sidang pengadilan, misalnya, atau mendiskusikan
permainan dengan para atlet olahraga tertentu, kita bisa menghidupkan
cerita dengan membiarkan pembaca mendengarkan para partisipan
berbicara satu sama lain.
SUDUT PANDANG
Kita bisa membuat sebuah cerita biasa menjadi hidup dengan mengubah
sudut pandang. Cobalah untuk melihat inflasi misalnya, dari sudut
pandang seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari harus mengatur
anggaran keluarga.
IDENTIFIKASI
Sebuah tulisan akan lebih hidup jika pembaca merasa dilibatkan dalam
cerita dan membuat mereka mengerti mengapa sebuah masalah bermanfaat
untuk mereka ketahui. Secara insidental, pembaca paling mudah
mengidentifikasikan diri jika cerita ditulis dalam bentuk orang ketiga
-- cara kebanyakan fiksi ditulis.
BERTUTUR
Tulisan yang hidup memiliki irama dan nada berbincang yang baik.
Memiliki suara. Kita bisa menghidupkan cerita yang membosankan dengan
menulis sesuatu seperti kita sedang membicarakan sesuatu kepada
seorang pembaca, dengan bahasa dan ungkapan keseharian yang kita pakai
untuk berbicara.
Oleh: "Farid Gaban" faridgaban@yahoo.com
